Kembangkan Bahan Pengganti Minyak Sawit dari CO₂ Menjadi Kosmetik

SHARE THIS POST

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Kembangkan Bahan Pengganti Minyak Sawit dari CO₂ Menjadi Kosmetik Grup Mibelle, LanzaTech, dan Fraunhofer IGB kembangkan bahan pengganti minyak sawit dari  CO₂ menjadi bahan industri kosmetik yang berkelanjutan. Apakah para produsen kelapa sawit dan industri kosmetik di Indonesia dapat mendiversifikasi turunan minyak kelapa sawit?

Kiri ke kanan: Diagram proses produksi substitusi minyak sawit dari CO₂ (kiri) Pengembangan formulasi bebas minyak sawit di Lab Grup Mibelle (Foto/©: Mibelle Group, 2025)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

TechnoMachinews.id – Fraunhofer IGB (sumber): Grup Mibelle, LanzaTech, dan Fraunhofer IGB melakukan terobosan inovatif dalam industri bahan baku kosmetik. Para peneliti berhasil mengembangkan lemak berkelanjutan dari karbon dioksida (CO₂) sebagai alternatif pengganti minyak sawit.

Inovasi ini merupakan langkah penting menuju produksi kosmetik yang lebih ramah lingkungan dan rendah jejak karbon, sekaligus membuka peluang bisnis baru bagi rantai pasok industri global.

Setelah bertahun-tahun melakukan penelitian, Grup Mibelle, LanzaTech, dan Fraunhofer Institute for Interfacial Engineering and Biotechnology (IGB) mencapai terobosan dalam inovasi berkelanjutan.

Dengan bantuan bioteknologi modern, para mitra mengembangkan bahan berbasis CO₂ yang dapat menggantikan minyak sawit dalam kosmetik dan produk konsumsi sehari-hari lainnya.

Teknologi pionir ini mengurangi kedgantungan pada minyak sawit dan membuka pintu bagi rantai pasokan yang lebih berkelanjutan, dengan potensi untuk mentransformasi industri secara luas.

Minyak sawit merupakan bahan baku yang sangat diperlukan bagi banyak industri karena hasil panen kelapa sawit yang tinggi, masa simpannya yang panjang, dan ketahanannya terhadap panas.

Minyak sawit merupakan bahan baku utama dalam berbagai produk kosmetik dan perawatan pribadi. Namun, produksi minyak sawit selama ini menghadapi berbagai tantangan, seperti deforestasi, degradasi lahan, dan tekanan emisi gas rumah kaca.

Indonesia sebagai produsen Crude Palm Oil (CPO) terbesar di dunia juga menghadapi tekanan internasional untuk memastikan keberlanjutan industri sawitnya.

Di sisi lain, industri kosmetik global kini semakin menuntut bahan baku yang transparan, ramah lingkungan, dan bersumber dari proses berkelanjutan.

Dari makanan, kosmetik, produk pembersih hingga biofuel, minyak sawit ditemukan di banyak produk yang kita gunakan sehari-hari. Kebutuhan yang mendesak yakni bahan baru sebagai pengganti minyak sawit.

Semakin luas area hutan di Indonesia ditebang untuk budidaya kelapa sawit, mengancam banyak spesies hewan dan tumbuhan. Proses ini juga melepaskan sejumlah besar CO₂ yang tersimpan ke atmosfer.

Industri kosmetik menyadari situasi ini dan merespons dengan mengambil sumber minyak sawit terutama dari budidaya bersertifikat, memastikan bahwa bahan bakunya berasal dari sumber yang dikelola secara berkelanjutan.

Akan tetapi, budidaya berkelanjutan saja tidak dapat memenuhi permintaan industri yang terus meningkat dalam jangka panjang. Solusi baru dan inovatif sangat dibutuhkan untuk masa depan.

Teknologi inovatif beraksi

Grup Mibelle memelopori pendekatan yang benar-benar baru bersama LanzaTech dan Fraunhofer IGB). Terobosan mereka menggabungkan dua proses fermentasi berurutan untuk mengubah gas rumah kaca CO₂ menjadi campuran lemak bebas minyak sawit.

Komposisi campuran ini sangat mirip dengan minyak sawit sehingga memungkinkan kita untuk menggantikan minyak tropis dalam berbagai aplikasi di masa mendatang.

Para CEO Mibelle dan LanzaTech, serta direktur Fraunhofer IGB yang berada di Leuna, Jerman, saat peluncuran fermentasi. Kiri ke kanan (depan): Dr. Jennifer Holmgren, CEO LanzaTech; Susanne Heldmaier, Pimpinan Strategis Riset Dasar & Inovasi Teknologi Grup Mibelle; (Tengah): Dr. Markus Wolperdinger, Direktur Fraunhofer IGB; Bernd Söllner, Kepala Litbang, Grup Mibelle;—(belakang): Dr. Holger Wondraczek, Manajer Lokasi Leuna, Fraunhofer IGB; Dr. Peter Müller, CEO Grup Mibelle (Foto/©: Fraunhofer IGB)

Pertama, CO₂ yang seharusnya dilepaskan ke atmosfer diubah menjadi alkohol menggunakan proses bioteknologi yang dikembangkan oleh LanzaTech. Proses ini serupa dengan pembuatan bir – hanya saja CO₂ menggantikan biji-bijian sebagai bahan bakunya.

Pada langkah kedua proses fermentasi, yang terutama dikembangkan oleh Fraunhofer IGB, alkohol yang dihasilkan dari CO₂ diubah menjadi lemak yang diinginkan oleh ragi minyak khusus.

Yang terpenting, kedua tahap fermentasi ini hanya mengandalkan mikroorganisme alami yang tidak dimodifikasi secara genetik.

Hasilnya adalah lemak serbaguna berkualitas tinggi yang 100 persen bebas minyak sawit, alami, dan diperkaya dengan khasiat perawatan kulit yang luar biasa, sebuah fitur penting untuk produk kosmetik.

“Inovasi ini merupakan hasil kemitraan jangka panjang dengan LanzaTech dan merupakan tonggak sejarah bagi industri kosmetik. Dikombinasikan dengan kekuatan inovatif Fraunhofer, kami menetapkan standar baru bagi seluruh industri dan menggarisbawahi komitmen kami untuk bertanggung jawab atas masa depan planet kita sekaligus memperkuat rantai pasokan,” beber Peter Müller, CEO Grup Mibelle.

Bukan ancaman bagi Indonesia

Setelah uji coba laboratorium yang sukses di Fraunhofer IGB dan uji aplikasi yang menjanjikan di laboratorium milik Grup Mibelle, para mitra beralih ke produksi campuran lemak serupa minyak sawit dalam skala kilogram.

Untuk tujuan ini, proses fermentasi yang dikembangkan di Fraunhofer IGB sedang ditingkatkan skalanya secara bertahap di Fraunhofer Center for Chemical-Biotechnological Processes (CBP) di Leuna, cabang Fraunhofer IGB.

“Setelah penelitian sukses di laboratorium, kami memulai pengembangan proses percontohan,” cerita Susanne Heldmaier, Kepala Riset & Inovasi Teknis Grup Mibelle.

“Ini merupakan langkah penting dan akhirnya kami mendapatkan lemak berkualitas tinggi dalam jumlah pertama. Hal ini akan memungkinkan kami untuk mengembangkan produk kosmetik yang tidak hanya melindungi kulit—juga berkontribusi dalam melindungi lingkungan,” lanjut Susanne Heldmaier.

Di masa mendatang, Dengan dukungan dari para pemasok bahan baku, pihak Susanne Heldmaier berharap dapat mengonversi semakin banyak bahan baku berbasis minyak sawit menjadi solusi berkelanjutan.

Dengan teknologi baru ini, ketiga perusahaan memberikan kontribusi signifikan terhadap pengurangan deforestasi hutan hujan dalam jangka panjang dan membangun rantai nilai yang berkelanjutan.

Teknologi yang dikembangkan oleh Grup Mibelle, LanzaTech, dan Fraunhofer IGB memungkinkan konversi CO₂ menjadi lemak mirip minyak sawit melalui proses bioteknologi canggih.

Solusi ini tidak hanya mengurangi ketergantungan terhadap minyak sawit konvensional, tetapi juga menawarkan jalur produksi baru yang minim dampak lingkungan.

Bagi pelaku industri kelapa sawit dan kosmetik di Indonesia, inovasi ini dapat menjadi peluang untuk diversifikasi portofolio produk, integrasi teknologi rendah karbon, serta peningkatan nilai tambah melalui adopsi model ekonomi sirkular berbasis emisi karbon yang ditangkap.

Pengembangan bahan pengganti minyak sawit dari CO₂ oleh Mibelle Group dan mitranya menandai arah baru dalam industri kosmetik global.

Bagi Indonesia, inovasi ini tidak harus dilihat sebagai ancaman, melainkan sebagai peluang kolaboratif untuk memperkuat posisi sebagai pemimpin industri berkelanjutan dengan mengadopsi teknologi hijau dan memperluas basis inovasi di sektor hilir sawit dan kosmetik.

 

 

SHARE THIS POST

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
ARTIKEL TERKAIT