Foam PBS Bio-Based Tingkatkan Industri Plastik Berkelanjutan  

SHARE THIS POST

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Penggunaan Foam PBS bio-based buatan para ahli Fraunhofer menawarkan alternatif berkelanjutan pengganti foam PE tanpa perlu mengubah lini produksi industri.

Lembaran busa xPBS: busa berbasis hayati yang terbuat dari polybutylene succinate (Foyo/©: Fraunhofer ICT)

Lembaran busa xPBS

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

TechnoMachinews.id – Fraunhofer CCPE (sumber): Teknologi foam berbasis Foam PBS bio-based  atau polybutylene succinate (PBS) membuka peluang baru bagi industri plastik untuk beralih ke material yang lebih berkelanjutan tanpa harus melakukan investasi besar pada peralatan produksi. 

 

Tim ahli Fraunhofer Cluster of Excellence Circular Plastics Economy (CCPE) mengembangkan material xPBS dirancang sebagai solusi drop-in yang dapat diproses dengan menggunakan lini ekstrusi yang sudah tersedia. 

 

Teknologi ini berpotensi menggantikan foam polyethylene (PE) dalam berbagai aplikasi, termasuk kemasan, perlindungan dan transportasi, serta konstruksi, sekaligus membantu perusahaan menekan emisi CO₂ dan mengantisipasi tuntutan regulasi terkait keberlanjutan dan daur ulang.

 

Busa berbasis hayati menggantikan material berbasis minyak bumi – tanpa perlu mengubah peralatan proses produksi.

 

Busa ekstrusi baru yang terbuat dari polybutylene succinate (PBS) menawarkan akses langsung bagi perusahaan industri terhadap solusi material berkelanjutan – tanpa perlu berinvestasi pada peralatan baru. 

 

Keunggulan utamanya meliputi: pengurangan emisi CO2, pemenuhan persyaratan regulasi, dan efektivitas biaya.

 

Proyek “busa ekstrusi PBS” yang disingkat xPBS berhasil mengembangkan busa berbasis hayati yang terbuat dari polybutylene succinate. 

Berkat karakteristik sifatnya, material ini dapat menggantikan busa polietilena (PE) konvensional di berbagai bidang aplikasi utama – seperti kemasan, solusi pelindung dan transportasi, serta konstruksi. 

 

Khususnya di pasar dengan volume besar ini, permintaan akan material berbasis hayati terus meningkat akibat adanya persyaratan regulasi dan tuntutan keberlanjutan yang semakin tinggi.

 

Aspek yang sangat penting bagi industri adalah fungsi xPBS sebagai solusi drop-in (dapat langsung diterapkan). 

 

Busa ini dapat diproses dengan zmenggunakan lini ekstrusi yang sudah ada tanpa memerlukan investasi besar untuk modifikasi. 

 

Hal ini memberikan kesempatan bagi perusahaan untuk menjadikan produk mereka lebih berkelanjutan dalam jangka pendek tanpa harus mengubah proses yang sudah berjalan secara mendasar.

 

Keahlian Fraunhofer berpadu dengan kelayakan industri

 

Keberhasilan proyek ini didasarkan pada kerja sama erat antara beberapa institut Fraunhofer CCPE serta keahlian mereka di sepanjang rantai nilai. 

 

Fraunhofer ICT memimpin pengembangan formulasi dan proses pembentukan busa serta peningkatan skala produksi menuju fasilitas berskala industri, sementara Fraunhofer IAP berfokus pada sintesis polimer dan penyesuaian sifat material secara terarah.

 

Integrasi antara pengembangan material dan proses ini memungkinkan terciptanya busa PBS yang tidak hanya berfungsi di laboratorium, tetapi juga dalam kondisi produksi yang nyata. 

 

“Tujuan kami adalah mengembangkan solusi material yang dapat langsung digunakan di industri,” jelas Anja Dennard, manajer proyek dari Fraunhofer ICT. 

 

“Fakta bahwa kini kami dapat memproduksi busa PBS dengan sifat yang sebanding dengan PE pada skala mendekati industri merupakan hal baru dan langkah krusial menuju penerapan praktis.” 

 

Keseimbangan antara kinerja dan keberlanjutan

 

Busa PBS yang dikembangkan ini memiliki kepadatan yang sebanding dengan material LDPE yang sudah umum digunakan serta dapat diproses secara stabil. Hal ini menjadikannya cocok untuk berbagai aplikasi yang sebelumnya menggunakan busa berbasis fosil.

 

Pada saat yang sama, material ini menawarkan keunggulan ekologis yang krusial: PBS berbasis hayati (bio-based), dapat terurai secara hayati (biodegradable), dan—berkat sifat termoplastiknya—dapat didaur ulang. 

 

Bagi perusahaan, ini berarti mereka dapat mencapai target keberlanjutan tanpa mengorbankan kinerja teknis.

 

Kedekatan dengan pasar menciptakan keunggulan kompetitif. Berkat kematangan teknologi yang telah dicapai, transisi dari tahap pengembangan ke aplikasi industri menjadi jauh lebih singkat. 

Perusahaan memperoleh keuntungan berupa risiko implementasi yang rendah serta prospek yang jelas untuk peningkatan skala produksi. Selain itu, persyaratan regulasi di masa depan—misalnya terkait keberlanjutan dan kemampuan daur ulang—dapat dipenuhi sejak dini.

 

Hal ini menjadikan xPBS bukan sekadar inovasi teknologi, melainkan juga instrumen strategis untuk memosisikan diri dalam persaingan dengan alternatif yang lebih berkelanjutan dibandingkan busa plastik konvensional.

 

Prospek: Pasar baru melalui xPBS-food

 

Proyek lanjutan xPBS-food, yang diluncurkan pada awal tahun 2026, secara khusus menerapkan teknologi ini pada sektor kemasan pangan yang memiliki standar ketat. 

 

Tujuan proyek bersama yang melibatkan 5 institut Fraunhofer CCPE  yang mengkoordonir ICT, IAP, LBF, dan Fraunhofer IVV—adalah mengembangkan solusi kemasan berbahan dasar PBS yang aman untuk pangan, berbentuk busa, dan menggunakan material Tunggal atau mono-material. 

 

Solusi ini dirancang untuk memenuhi persyaratan fungsional dan sensoris, sekaligus dapat didaur ulang atau terurai secara hayati. 

 

Langkah ini membuka bidang aplikasi lain dengan potensi pertumbuhan tinggi serta menunjukkan bagaimana teknologi tersebut dapat dikembangkan untuk menjangkau pasar-pasar baru.

 

Proyek xPBS membuktikan bahwa solusi plastik berkelanjutan sudah layak secara ekonomi dan industri saat ini, sekaligus membuka peluang nyata bagi perusahaan untuk berperan aktif dalam membentuk transformasi tersebut.

 

Uji coba pada lini produksi yang sudah tersedia. Konsep drop-in xPBS dapat menjadi pendekatan awal untuk mengevaluasi penggunaan material bio-based tanpa langsung mengganti seluruh mesin produksi.

 

Bagaimana penerapan temuan ini di Indonesia? 

 

Prioritaskan aplikasi dengan volume tinggi. Industri kemasan, material pelindung, transportasi, dan konstruksi dapat menjadi sektor awal untuk menguji kelayakan komersial foam PBS.

 

Hitung manfaat secara menyeluruh. Evaluasi sebaiknya mencakup biaya material, kebutuhan energi, produktivitas lini, potensi pengurangan emisi, kemampuan daur ulang, serta kepatuhan terhadap regulasi yang terus berkembang.

 

Bangun kemitraan teknologi dengan pemasok dan lembaga riset. Industri Indonesia dapat melakukan pilot project bersama pengembang material, produsen resin, konverter, dan lembaga penelitian untuk mempercepat validasi performa dan skala produksi.

 

Antisipasi kebutuhan kemasan pangan. Pengembangan xPBS-food menunjukkan arah teknologi menuju kemasan berbasis PBS yang aman untuk pangan. 

 

Perusahaan kemasan dan makanan-minuman di Indonesia sebaiknya mulai memantau perkembangan material ini serta persyaratan keamanan pangan yang relevan.

 

Bagi pelaku industri plastik maka foam PBS menawarkan peluang untuk menjalankan transisi menuju material yang lebih berkelanjutan dengan risiko perubahan proses yang relatif lebih rendah. 

 

Pendekatan seperti xPBS menunjukkan bahwa keberlanjutan tidak selalu harus dimulai dari pembangunan lini produksi baru. 

 

Perusahaan yang lebih awal melakukan pengujian, menghitung keekonomian, dan membangun kesiapan rantai pasok berpeluang lebih siap menghadapi tuntutan regulasi, permintaan konsumen, serta persaingan menuju industri plastik yang lebih rendah emisi dan sirkular. #SalamSobatTechnoMachinews

 

SHARE THIS POST

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
ARTIKEL TERKAIT