Robot Kolaboratif: Mitra Cerdas di Jalur Produksi

SHARE THIS POST

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Tampilan robot kolaboratif atau CoBot cerdas berkat AI dan AR kelihatan di jalur produksi suatu pabrik atau manufaktur. Robot sebagai rekan kerja digital membantu manusia dalam menyelesaikan pekerjaan dan bukan menggantikan fungsi pekerja.     

Aplikasi realitas virtual dan tertambah membantu memperkirakan ruang yang dibutuhkan untuk rangkaian kabel di kompartemen mesin dan penumpang serta membantu mengoptimalkan urutan perakitan (Foto/©: Fraunhofer ITWM)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

TechnoMachinews.id – Fraunhofer IWU (sumber): Tampilan robot kolaboratif (CoBot) yang cerdas dan mampu beradaptasi secara real-time sesuai kebutuhan operator  yakni manusia. 

Dengan sistem penglihatan berbasis kamera 3D, kecerdasan buatan AI, dan pengenalan gestur, CoBot mampu memprediksi langkah kerja manusia dan bertindak sebagai “rekan kerja digital” yang membantu dan bukan menggantikan fungsi manusia. 

 Satu gambar 3D dari suatu komponen, yang diambil oleh kamera industri dan memerlukan daya komputasi yang minimal, memungkinkan robot untuk mengambil, memeriksa, dan memposisikan komponen dengan benar dan tepat. 

Sistem sekarang sudah dapat menangani penyambungan komponen pada sabuk konveyor yang bergerak.

Dalam pengaturan demo otomatis, perangkat lunak kontrol menentukan posisi semua objek relatif terhadap robot berdasarkan data gambar, menghitung jalur robot, dan memilih titik cengkeraman. 

Selanjutnya, robot mengambil paku keling buta dari magasin. Pengencang ini umumnya digunakan dalam industri otomotif untuk mengamankan atau memperkuat posisi komponen trim. 

Robot mencengkram ujung paku keling yang halus dan silindris dan melacak gerakan alas pilar B pada sistem konveyor sebelum robot memasukkan paku keling ke alas pilar B. 

Tidak ada komunikasi antara robot dan konveyor karena robot mampu memprediksi pergerakannya dengan menggunakan data gambar yang tersedia. Analisis gaya waktu nyata kemudian memandu robot dalam menekan paku keling ke komponen.

Proses ini menggunakan kecerdasan buatan AI terbaru yang dapat meniru indra peraba manusia. Selanjutnya, kembaran digital atau  digital twin memvisualisasikan semua tindakan robot secara nyata yang dapat dicermati oleh pekerja (manusia). 

Perangkat lunak yang disebut  Xeidana® merupakan hasil pembangan para ahli di Fraunhofer IWU yang menangani kontrol kualitas akhir.  Perangkat lunak ini memverifikasi apakah robot telah memasukkan paku keling dengan benar dan tepat.

Perencanaan perakitan dan pembongkaran intuitif dengan simulasi akurat secara fisik dan dukungan extended reality (XR). 

Perencanaan proses perakitan dan pembongkaran—terutama saat menggunakan komponen fleksibel seperti kabel, selang, atau komponen lembaran fleksibel—menimbulkan tantangan khusus yang harus dihadapi dan dikerjakan oleh para ahli. 

Pada tahap pengembangan awal, prototipe fisik sering kali tidak tersedia untuk menilai faktor-faktor seperti aksesibilitas spasial, kelayakan, atau risiko kerusakan selama pemasangan atau pelepasan.

Lingkungan realitas terluas atau extended reality (XR), yang menggabungkan realitas virtual (VR) dan tertambah, menawarkan solusi yang kuat dan intuitif dengan mensimulasikan komponen fleksibel akurasi fisik. 

Perencanaan virtual menghemat waktu dan biaya dengan mengurangi kebutuhan akan prototipe fisik yang mahal dan memungkinkan iterasi yang lebih cepat. 

Pendekatan ini mempersingkat siklus pengembangan secara signifikan. Alat XR yang intuitif juga memberikan akses awal ke proses desain untuk tim lintas fungsi, termasuk pekerja perakitan dan pakar teknis.

Berkat integrasi dengan mesin grafis canggih seperti Unity, Unreal Engine, atau NVIDIA Omniverse, para profesional leluasa menjelajahi skenario perakitan yang rumit secara interaktif dan mendalam dengan menggunakan perangkat lunak Simulasi Kabel IPS.

Perangkat lunak itu dikembangkan oleh para ahli di Fraunhofer Institute for Industrial Mathematics ITWM.

Sistem sensor dengan sensor lapisan tipis 

Fraunhofer IST memperlihatkan cara kerja sensor lapisan tipis inovatif yang diaplikasikan langsung ke permukaan alat, memungkinkan pengukuran suhu waktu nyata yang diselesaikan secara spasial di zona tegangan kritis proses pencetakan injeksi.

Sebagai bagian dari Industri 4.0, pemantauan akurat parameter utama seperti kurva suhu dan tekanan dalam pemrosesan plastik sangat penting. 

Sisipan alat dengan sensor film tipis untuk pencetakan injeksi plastik. Perencanaan perakitan dan pembongkaran intuitif dengan simulasi akurat secara fisik dan dukungan XR (Foto/©: Fraunhofer IST (Martin Rekowski)

Sisipan alat yang dipajang mencakup 13 titik sensor yang berguna untuk  memantau aliran depan selama proses pencetakan. 

Karena daya tahan sistem lapisan tipis yang tinggi, memungkinkan untuk terus memantau bahkan proses yang melibatkan kandungan serat kaca tinggi atau bahan daur ulang — sebuah langkah penting menuju penggunaan bahan yang berkelanjutan dalam produksi sirkular.

Unit elektronik yang baru dikembangkan membaca dan menganalisis data secara real-time. AI secara akurat memprediksi kualitas komponen sebelum cetakan dibuka, memungkinkan penyesuaian dan pengoptimalan proses yang cepat.

Kota München di Jerman menjadi pusat perhatian dunia industri sejak 24 hingga 27 Juni 2025—waktu penyelenggaraan pameran bertajuk automatica 2025. 

Salah satu highlight yang menyita perhatian adalah partisipasi Fraunhofer autoMOBILproduction Alliance. Mereka menghadirkan beragam inovasi robotika (CoBot) berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung revolusi Industri 4.0

Selama pameran, digelar integrasi teknologi digital twin atau kembaran digital dengan sistem augmented reality (AR) seperti Xeidana® yang memungkinkan simulasi kondisi produksi secara digital sekaligus pemantauan kualitas secara langsung. 

Teknologi digital twin memungkinkan simulasi dan pemantauan proses produksi secara real-time. Sistem seperti Xeidana® menggunakan AR untuk kontrol kualitas langsung di jalur produksi, mendeteksi cacat permukaan tanpa menghentikan proses.

AR dan operator dapat mendeteksi cacat pada komponen—seperti goresan halus atau kesalahan perakitan—tanpa harus menghentikan lini produksi.

Robot kolaboratif atau CoBot berbasis AI yang merupakan sistem robotik—dirancang untuk bekerja berdampingan dengan manusia secara aman dan cerdas. Salah satu contoh yang digelar oleh Fraunhofer adalah CoBot sebuah AI-based assembly workstation.

CoBot mampu mendeteksi postur tubuh dan gerakan pekerja dengan menggunakan kamera. Juga memahami urutan kerja dan membantu secara proaktif, seperti mengambil alat atau memegang komponen.

CoBot  yang kolaboratif itu berinteraksi melalui gestur dan perintah suara tanpa perlu perangkat tambahan seera menyesuaikan gerakan lengan robot agar tidak bertabrakan dengan manusia di sekitarnya.

Teknologi ini memungkinkan proses perakitan manual menjadi lebih cepat, aman, dan efisien—terutama dalam industri otomotif dan manufaktur yang membutuhkan presisi tinggi.

Robot-robot ini mampu bekerja berdampingan dengan manusia secara aman dan efisien. Dengan bantuan data 3D dan kontrol gaya-momen, robot dapat melakukan tugas seperti memasang komponen ke bagian bergerak secara presisi tinggi.

SHARE THIS POST

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
ARTIKEL TERKAIT