Proyek KISSSEs merupakan solusi teknologi laser yang bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada kebutuhan bahan logam mulia—seperti platinum dan iridium—khususnya pengembangan elektrolisis proton exchange membrane.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
TechnoMachinews.id – Fraunhofer ILT (sumber): Ketergantungan pada logam mulia seperti platinum dan iridium masih menjadi tantangan utama dalam pengembangan elektroliser proton exchange membrane (PEM) untuk produksi hidrogen hijau.
Pengertian proton exchange membrane (PEM)? Bahan ini adalah komponen inti yang menentukan kinerja, efisiensi, dan keamanan elektroliser dan fuel cell secara modern.
Oleh karena itu, inovasi seperti pengurangan penggunaan logam mulia—seperti platinum dan iridium dan teknologi laser yang dikembangkan oleh para ahli Fraunhofer ILT sangat penting dan menantang—tentu bermanfaat bagi pelaku manufaktur di Indonesia.
Menjawab tantangan tersebut, para ahli Fraunhofer Institute for Laser Technology (ILT) menginisiasi proyek KISSSEs, sebuah pendekatan berbasis teknologi laser yang bertujuan mengurangi penggunaan material mahal tanpa mengorbankan atau meniadakan performa (kinerja) sistem elektrolisis.
Elektrolisis adalah teknologi kunci untuk masa depan energi bersih, karena mampu mengubah listrik menjadi bahan bakar (hidrogen) yang fleksibel dan rendah emisi.
Inovasi ini membuka peluang besar bagi industri energi untuk menekan biaya sekaligus meningkatkan efisiensi produksi hidrogen.
Selama tiga tahun ke depan, Institut Teknologi Laser Fraunhofer ILT, bersama dengan mitra regional, fokus mengembangkan teknologi baru untuk mengurangi penggunaan logam mulia yang mahal dalam elektroliser membran pertukaran proton.
Di laboratorium hidrogen Fraunhofer ILT, para peneliti mempresentasikan seluruh rantai proses—mulai dari simulasi dan pengujian hingga pembuatan komponen dan sistem untuk teknologi hidrogen.
Permintaan industri global untuk hidrogen yang diproduksi secara berkelanjutan terus meningkat dari tahun ke tahun.
Akan tetapi, saat ini terdapat kekurangan elektroliser untuk secara efisien mengubah listrik hijau menjadi hidrogen. Para ahli mengupayakan teknologi elektrolisis harus mampu berkinerja tinggi dan terukur maka kita sepenuhnya dapat memanfaatkan potensi energi terbarukan itu.
Pada Oktober 2025, proyek penelitian pengelasan dan pemotongan kisi logam yang diperluas dengan penggunaan teknologi kecerdasan buar]tan AI dalam produksi elektroliser yang efisien—melalui proyek yang dinamai KISSSEs.
Tujuan dari proyek KISSSEs yang dikerjakan berdasarkan kolaborasi antarmitra adalah untuk mengembangkan teknologi yang memungkinkan produksi elektroliser yang lebih hemat biaya.
Alih-alih kisi berlapis logam mulia yang mahal, para peneliti dari Fraunhofer ILT dan dua mitra regional bertujuan untuk menggunakan kisi yang dilas laser dengan konduktivitas listrik setinggi mungkin.
Para peneliti di Fraunhofer ILT menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk mengidentifikasi titik optimal untuk pengelasan laser pada kisi yang kompleks, sehingga meningkatkan konduktivitas.
Manfaat adopsi bagi pelaku industri di Indonesia
Pengelasan titik-titik ini secara tepat dengan laser yang signifikan mengurangi resistansi kontak listrik pada kisi logam titanium yang diperluas, dan menghilangkan kebutuhan akan lapisan logam mulia yang mahal.

Proses pemotongan laser yang menggunakan AI itu mengoptimalkan tepi, sehingga semakin meningkatkan efisiensi elektroliser.
“Model AI yang kami gunakan mampu mengidentifikasi titik pengelasan optimal bahkan dengan geometri jaring logam yang diperluas yang tidak beraturan, sehingga memungkinkan kontak yang direproduksi dengan resistansi yang lebih rendah,” tutur Zhiheng Ye, ahli hidrogen dari Fraunhofer ILT.
“Upaya kami bertujuan meletakkan dasar untuk produksi elektroliser yang terukur dan efisien sumber daya,” lanjut Zhiheng Ye.
Pelaku industri sedianya mengadopsi teknologi laser sebagai enabler efisiensi produksi. Industri manufaktur energi dan komponen elektrokimia di Indonesia.
Mereka dapat memulai dengan mengevaluasi teknologi laser sebagai solusi untuk coating, structuring, dan joining presisi tinggi, terutama pada komponen elektroliser dan fuel cell.
Model kolaborasi Fraunhofer ILT dengan mitra regional dapat dijadikan referensi bagi BUMN, industri swasta, dan lembaga riset nasional untuk mempercepat transfer teknologi hidrogen di Indonesia.
Dengan mengoptimalkan desain dan proses berbasis laser, industri lokal dapat menekan penggunaan logam mulia yang mahal dan sebagian besar masih bergantung pada impor.
Investasi pada pelatihan operator dan engineer di bidang laser processing, material science, dan sistem hidrogen akan menjadi kunci keberhasilan adopsi teknologi ini.
Inovasi teknologi laser yang dikembangkan Fraunhofer ILT melalui proyek KISSSEs menunjukkan bahwa efisiensi dan keberlanjutan dalam produksi hidrogen bergantung pada material, dan pada rekayasa proses manufaktur yang cerdas.
Bagi industri Indonesia, pendekatan ini menjadi peluang strategis untuk memperkuat posisi dalam rantai pasok energi hijau global.
Dengan adopsi teknologi yang tepat, kolaborasi riset yang kuat, dan kesiapan sumber daya manusia, Indonesia dapat mengambil peran lebih besar dalam ekosistem hidrogen masa depan—lebih efisien, lebih kompetitif, dan lebih berkelanjutan.
Melengkapi pengetahuan mari menyimak tulisan bagian kedua: Relevan untuk pencarian teknologi manufaktur, energi hidrogen, dan industri hijau. #SalamSobatTechnoMachinews





