Apa perbedaan mesin aditif dengan mesin manufaktur konvensional? Mesin yang digunakan di additive manufacturing mampu memproduksi bahan baku yang berbeda-beda dan kebih efisien.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
TechnoMachiNews.id – Gunakan additive manufacturing atau manufaktur aditif untuk mencapai efisiensi dan mesin mampu memproduksi bahan baku atau material yang berbeda seperti superalloy.
Bahan superalloy merupakan paduan super seperti nikel (Ni), besi (Fe), kobalt (Co), kromium (Cr), wolfram (W), titanium (Ti), aluminium (Al), niobium (Nb), dan molybdenum (Mo).
Harapan para pelaku indutri manufaktur dipenuhi oleh para ilmuwan di Institut Fraunhofer yang menangani Teknologi Material dan Balok dan yang berlokasi di kota Dresden, Jerman.
Para peneliti mengembangkan metode inovatif yang memungkinkan lebih banyak material dapat diproses dengan manufaktur aditif, berbeda dengan proses manufaktur sebelumnya yakni konvensional yang hanya mampu memproduksi satu jenis bahan.
Misalnya, sistem manufaktur aditif dapat memfasilitasi mesin pesawat masa depan yang lebih baik dengan konsumsi bahan bakar yang lebih rendah.
Diksi manufaktur aditif mengacu pada peran teknologi yang menumbuhkan objek tiga dimensi (3D) yang terdiri dari satu lapisan prima pada satu waktu.
Setiap lapisan berturut-turut mengikat lapisan sebelumnya dari bahan yang meleleh atau sebagian meleleh.
Menurut laman General Electric, para pelaku industri perlu mengidentifikasi kriteria untuk mengukur return on investment (ROI) dan jadikan manufaktur aditif sebagai pembelajaran guna membantu kepastian investasi dalam aditif yang menghasilkan laba atas investasi yang tinggi.
Manufaktur aditif dikenal sebagai pencetakan 3D yang digunakan sebagai pendekatan transformatif untuk produksi industri yang memungkinkan pembuatan suku cadang dan sistem yang lebih ringan dan lebih kuat.
Namun, demikian pandangan perusahaan kelas dunia, General Electric, bahwa kemajuan teknologi dimungkinkan dengan transisi dari proses analog ke digital.
Dalam beberapa dekade terakhir, komunikasi, pencitraan, arsitektur, dan teknologi—semuanya mengalami revolusi digital. Belakangan ini, penggunaan manufaktur aditif mampu menghasilkan fleksibilitas dan efisiensi digital pada saat dioperasionalkan.
Manufaktur aditif menggunakan perangkat lunak computer-aided-design (CAD) atau pemindai objek dengan 3D. Dengan demikian, sistem mengarahkan perangkat keras untuk menyimpan material, lapis demi lapis seperti 3D, dalam bentuk geometris yang presisi.
Sesuai namanya, manufaktur aditif menambahkan bahan untuk membuat objek. Sebaliknya, ketika seseorang atau Anda membuat objek dengan cara tradisional, seringkali material harus hilang Ketika berlangsung proses penggilingan, produksi, pembentukan, dan cara lain.
Meskipun istilah pencetakan 3D dengan prototipe cepat yang biasa digunakan untuk manufaktur aditif, namun tiap proses merupakan bagian dari manufaktur aditif itu sendiri.
Bagi banyak orang semisal pelaku manufaktur dan indutri, tampaknya manufaktur aditif masih baru meski telah diaplikasikan ke berbagai sektor industri pada beberapa dekade terakhir.
Dalam aplikasi yang tepat, manufaktur aditif memberikan trifecta sempurna dari peningkatan kinerja, geometri yang kompleks, dan fabrikasi yang disederhanakan. Hasilnya adalah peluang yang berlimpah bagi sebagian orang yang secara proaktif menerima konsep dan sistem manufaktur aditif.
Ole sebab itu, para insinyur harus terlebih dahulu meningkatkan printer 3D industri saat ini sedemikian rupa sehingga mesin dapat memproses paduan super bahan yang sangat kuat dan tahan panas.
Di sini, para peneliti yang berlokasi di kota Dresden, Jerman, mengandalkan pengalaman mendalam mereka dengan teknologi pengelasan penumpukan bubuk laser. Mereka juga menggunakan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Para ilmuwan menyumbangkan keahlian di bidang material dan secara mendalam diimplementasikan saat mengerjakan proyek milik Fraunhofer bertajuk futureAM.
Tujuan kerjasama adalah untuk mempercepat sistem manufaktur aditif khusus produksi komponen logam dengan faktor sepuluh dan mengelola bahan superalloy.
Para insinyur di Fraunhofer IWS menyempurnakan pengelasan penumpukan bubuk laser selama beberapa dekade. Hal itu memungkinkan penggunaan lebih banyak bahan diterapkan pada manufaktur aditif.
Dalam prosedur ini, sistem memasukkan berbagai serbuk pengisi ke dalam zona proses.
Di sana, laser melelehkan bubuk dan menyimpannya di permukaan benda kerja. Hasilnya, bagian yang diinginkan dihasilkan dalam proses lapis demi lapis.
“Salah satu keuntungan dari prosedur aditif ini adalah kemampuan kami menyesuaikan proses dengan sangat fleksibel dengan persyaratan material berperforma tinggi,” tutur Michael Müller, administrator proyek Fraunhofer IWS.
Dengan cara ini juga dimungkinkan, misalnya, untuk mencetak paduan berbasis nikel (Ni) yang sulit dilas dan diproses dibandingkan dengan penggunaan metode tradisional atau konvensional.
Baca: Mesin Memutuskan Tindakannya Sendiri, Big Data sangat Membantu





