Navigasi kemampuan robot humanoid dapat memajukan industri di Indonesia. Kita membutuhkan teknologi, kesiapan aplikasi, investasi, dan kebutuhan pengembangan robot.

Penulis/editor: Rayendra L Toruan
TechnoMachinews.id – Fraunhofer HNFIZ (sumber): Perkembangan robot humanoid memasuki fase penting ketika industri mulai mencari teknologi yang mampu menjawab kekurangan tenaga kerja sekaligus meningkatkan fleksibilitas operasional.
Akan tetapi, pertanyaan utama bukan sekadar apakah robot humanoid dapat bekerja, melainkan sejauh mana kemampuan teknologinya memenuhi kebutuhan industri jika misalnya teknologi itu dibutuhkan di Indonesia?
Menjawab tantangan tersebut, Fraunhofer IPA melalui Fraunhofer Heilbronn Research and Innovation Centers (HNFIZ) memperkenalkan Humanoid Capabilities Navigator, sebuah model evaluasi untuk mengukur dan membandingkan kemampuan teknis robot humanoid.
Tim peneliti Fraunhofer HNFIZ menerbitkan model evaluasi yang baru dikembangkan untuk mengklasifikasikan kemampuan teknis robot humanoid ke dalam lima tingkat. Aplikasi penggunaan juga dapat diklasifikasikan berdasarkan kemampuan robot yang dibutuhkan.
Model ini memungkinkan perbandingan antar-robot humanoid, mempermudah pemilihan humanoid yang tepat untuk aplikasi tertentu, serta menyoroti berbagai masalah yang belum terpecahkan dalam pengembangan teknologinya.
Di tengah meningkatnya kekurangan tenaga kerja terampil serta pesatnya kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan robotika, maka robot humanoid semakin menjadi sorotan bagi sektor industri dan logistik.
Perusahaan pun dihadapkan pada pertanyaan kunci mengenai kapan dan untuk tugas apa robot humanoid dapat atau akan dikerahkan secara layak, baik dari segi teknis maupun ekonomi.
Banyak perusahaan dan lembaga penelitian yang menguji sistem awal, namun hingga saat ini, belum tersedia model evaluasi yang komprehensif dan memungkinkan perbandingan yang setara.
Transparansi dan kemampuan perbandingan untuk robot humanoid
Di sinilah peran model Humanoid Capabilities Navigator—yang dikembangkan oleh tim ahli Fraunhofer IPA di yang berlokasi di Heilbronn, Jerman—menjadi relevan, dan alat ini diperkenalkan dalam sebuah white paper yang baru saja dirilis.
Melalui Pusat Penelitian dan Inovasi AI-based Robotics atau Robotika berbasis AI, merupakan bagian dari Fraunhofer HNFIZ.
Dalam konteks ini, tim ahli mengerjakan pengembangan humanoid di samping topik-topik lain seperti manipulasi bergerak yang cerdas atau intelligent mobile manipulation dan penggunaan tangan robot yang fleksibel.
Model Humanoid Capabilities Navigator secara garis besar terinspirasi oleh lima tingkat otomatisasi dalam teknologi kendaraan otonom. Alat ini mengevaluasi robot humanoid berdasarkan empat kategori utama—masing-masing mencakup berbagai kemampuan teknis dan tahapan pengembangannya:
– Mobilitas dan pergerakan/lokomosi (misalnya, lokalisasi dan perencanaan jalur) – Manipulasi (misalnya, penginderaan gaya dan perencanaan genggaman) – Kognisi (misalnya, persepsi dan perencanaan tugas) – Keselamatan dan keamanan
Untuk setiap kemampuan dalam kategori tersebut, robot humanoid dapat diklasifikasikan berdasarkan tingkat kematangan mulai dari 0 (tidak tersedia) hingga 4 (sangat otonom, setara dengan manusia atau bahkan lebih baik).
Hal itu memungkinkan—untuk pertama kalinya—dilakukannya perbandingan yang transparan, independen terhadap produsen, dan berlandaskan data yang kuat antara berbagai robot humanoid, sekaligus memberikan informasi mengenai kesesuaiannya untuk aplikasi tertentu. Klasifikasi praktis aplikasi dunia nyata dan robot.
Publikasi ini mengilustrasikan penggunaan model Humanoid Capabilities Navigator dalam aplikasi industri umum seperti bongkar muat truk, pengambilan pesanan atau order picking, pengoperasian mesin, dan tugas pemeliharaan. Untuk setiap tugas, tingkat kematangan teknis yang diperlukan dalam empat bidang kapabilitas disorot.
Sebagai contoh, kegiatan bongkar muat truk menuntut tingkat tertinggi dalam hal manipulasi, kognisi, dan keselamatan, sedangkan pengoperasian mesin memerlukan tingkat kapabilitas yang lebih rendah karena prosesnya lebih terstruktur sehingga membutuhkan fleksibilitas yang lebih sedikit dalam pelaksanaan tugas.
Divisi otomatisasi Fraunhofer IPA menguji model Humanoid Capabilities Navigator dengan menggunakan robot humanoid yang terkini yaitu G1 buatan Unitree Robotics. Hasilnya menunjukkan bahwa versi G1 telah mencapai kemajuan signifikan dalam sub-bidang seperti mobilitas.
Namun, masih diperlukan pengembangan lebih lanjut untuk memenuhi kebutuhan industri secara menyeluruh. Model evaluasi ini memperlihatkan kesenjangan tersebut secara jelas dan memberikan dukungan terarah dalam menentukan prioritas pengembangan.
Menentukan arah penelitian, pengembangan, dan prakiraan pasar
Fraunhofer IPA menawarkan alat praktis bagi industri untuk menilai potensi robot humanoid secara realistis, mendukung keputusan investasi, serta merumuskan langkah-langkah penelitian dan pengembangan yang tepat sasaran.
Alat ini juga memungkinkan penilaian yang andal terhadap perkembangan pasar di masa depan, karena kemajuan teknologi dikaitkan secara sistematis dengan kebutuhan aplikasi tertentu.
Dokumen white paper merupakan bagian dari rangkaian publikasi yang telah atau akan dirilis oleh institut tersebut hingga paruh pertama tahun 2026.
Pelaku industri di Indonesia dapat mengambil beberapa langkah strategis—jika ingin menerapkan penggunaan robot humanoid.
Pertama, mulai dari use case yang terukur. Pilih pekerjaan dengan proses yang jelas, memiliki indikator produktivitas, dan memberikan manfaat ekonomi yang dapat dihitung.
Kedua, lakukan capability assessment sebelum membeli robot. Jangan hanya membandingkan harga dan spesifikasi perangkat. Evaluasi juga kemampuan aktual robot terhadap kebutuhan pekerjaan di lapangan.
Ketiga, prioritaskan keselamatan. Sebab robot humanoid akan beroperasi semakin dekat dengan manusia sehingga aspek keselamatan, keamanan sistem, dan kemampuan robot merespons kondisi tidak terduga harus menjadi persyaratan utama.
Keempat, gunakan proyek percontohan. Implementasi awal dalam skala terbatas dapat membantu perusahaan mengetahui biaya integrasi, kebutuhan infrastruktur, pemeliharaan, pelatihan tenaga kerja, serta produktivitas aktual.
Kelima, siapkan tenaga kerja untuk kolaborasi dengan robot. Transformasi menuju robot humanoid bukan hanya persoalan membeli perangkat, tetapi juga membutuhkan kemampuan baru dalam pemrograman, integrasi sistem, pemeliharaan, pengawasan, dan analisis data.
Model Humanoid Capabilities Navigator menyediakan pendekatan yang lebih sistematis untuk menilai kesiapan teknologi robot humanoid berdasarkan kemampuan teknis dan kebutuhan aplikasi.
Dengan skala kematangan 0 hingga 4 dan empat kategori utama—mobilitas, manipulasi, kognisi, serta keselamatan—perusahaan dapat memperoleh gambaran yang lebih objektif mengenai kemampuan sebuah robot.
Bagi industri di Indonesia, pendekatan ini dapat menjadi referensi penting sebelum memasuki investasi robot humanoid.
Strategi terbaik bukan mencari dan membeli robot yang paling canggih, melainkan memilih teknologi yang paling sesuai dengan kebutuhan pekerjaan, tingkat risiko, dan nilai ekonomi yang ingin dicapai.
Seiring kemajuan AI dan robotika, kemampuan humanoid diperkirakan terus meningkat. Karena itu, perusahaan di Indonesia perlu mulai membangun kemampuan evaluasi teknologi sejak sekarang agar dapat menentukan waktu, proses, dan skala adopsi robot humanoid secara lebih tepat. #SalamSobatTechnoMachinews





