Pertanian Vertikal, Membangun Ketahanan Pangan di Perkotaan

SHARE THIS POST

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp

Bangun pertanian vertikal di kota-kota besar untuk menjaga ketahanan pangan. Beragam jenis tanaman mudah dikembangkan dengan teknologi yang inovatif dan tidak membutuhkan lahan luas seperti pertanian konvensional.

Populasi global yang terus berkembang, jutaan manusia suliy akses terhadap sumber pangan, dan keterbatasan pada pertumbuhan produksi pertanian konvensional—eperti kelangkaan lahan dan air—maka solusinya adalah perlunya pendekatan inovatif seperti pertanian vertikal untuk memastikan pasokan protein yang andal. Gambar di atas menjelaskan tanaman gandum muda di fasilitas uji OrbiPlant® proyek uji coba Fraunhofer IME (Footo/©: Andreas Reimann, Fraunhofer IME)

Penulis/editor: Rayendra L Toruan

TechnoMachinews.id –  Fraunhofer IME (sumber): Beberapa negara yang berhasil mengembangkan pertanian vertikal dapat dijadikan sebagai role model bagi kota-kota besar di Indonesia.

Hasil pertanian vertikal berpeluang memberikan kontribusi signifikan terhadap pasokan protein bagi populasi di perkotaan dan bahkan bagi negara-negara yang kesulitan mendapatkan produk pertanian yang menhasilkan pangan.

Pesatnya urbanisasi dan pertumbuhan populasi di kota-kota besar di Indonesia dan di negara-negara lain, berpengaruh terhadap ketahanan pangan dan menjadi masalah serius yang harus  kita atasi sesegera mungkin—ditambah masalah yang disebabkan perubahan iklim.

Lahan pertanian yang semakin minim—akibat penggunaan lahan menjadi kawasan industri manufaktur dan peruntukan bangunan-bangunan konstruksi.

Salah satu implikasi yang kita rasakan, terjadi ketergantungan kota-kota dan negara miskin terhadap ketahanan bahan pangan. Kacang kedele misalnya yang sebagian besar dibutuhkan oleh usaha makro dan kecil di Indonesia, sebagian besar masih diimpor.

Para pembuat kebijakan harus inovatif untuk memastikan pasokan kacang kedela yang diolah menjadi tahu dan tempe, dan harganya pun harus dapat dikontrol agar tetap stabil dan berkelanjutan pasokan (bahan baku) tetap terjaga.

Mana kala stok bahan baku tidak sebanding dengan permintaan, maka pasar akan bergejolak. Para pelaku usaha makro dan kecil melakukan aksi unjuk rasa yang ujung-ujungnya menguras tenaga dan biaya.

Salah satu solusi yang menjanjikan adalah pembangunan pertanian vertikal di kota-kota berpenduduk padat. Dengan penerapan teknologi yang novatif maka pertanian vertikal memungkinkan penanaman beberapa jenis tanaman di dalam lapisan yang vertikal di lingkungan yang dapat dikelola dengan baik dan sistematis.

Lahan pertanian vertikal yang dibangun di ruang tertutup akan lebih efisien karena mengurangi penggunaan air dan pestisida. Pertanian vertikal menjanjikan harapan baru untuk membangun ketahanan pangan dan mudah dilaksanakan di seluruh perkotaan di Indonesia.

Tntu saja para stake holders termasuk para pakar di bidang pertanian dan calon pembuat kebijakan mempunyai niat yang baik dan tulus—tidak mencetuskan gagasan mereka hanya sebagai jargon politik seperti menjelang Pilkada pada November 2024.

Pertanian vertikal tidak butuh lahab luas

Contohnya, kita mendengarkan program food estate yang dibangun sebagai lumbung sumber pangan di beberapa daerah di Indonesia. Tujan pembangunan food estate itu adalah untuk memperkuat ketahanan pangan. Akan tetapi,  kegembiraan saat menyaksikan seremonial yang dilakukan oleh pelbagai kalangan tak berlanjut dengan hasil yang maksimal dan bahkan beritanya tidak berlanjut. Ironisnya, pengadaan lahan terlanjut merusak lingkungan tanpa hasil yang jelas.

Kita tak pernah jenuh belajar dari gagasan-gagasan yang telah diwujudkan oleh para ahli. Contohnya para ahli di Jerman telah memastikan bahwa persediaan protein makanan dapat diciptakan agar jangan sampai menyentuh lapisan zona langka di masa mendatang.

Menghadapi kondisi cuaca ekstrem dan tekanan lingkungan yang meningkat dan berpengaruh terhadap sektor pertaniaan yang merupakan sumber pangan, para peneliti di Fraunhofer EMI melakukan terobosan dengan membangun lahan pertanian vertikal yang dikhususkan di perkotaan atau negara-negara bukan agrais.

Para ahli dari enam Institut Fraunhofer (semacam lembaga Badan Riset dan Inovasi Nasional milik Indonesia)  berfokus pada sistem pembangunan pertanian di lingkungan ruang yang tertutup. Artinya, para ahli tidak meminta lahan yang luas untuk mewujudkan impian mereka.

Para ahli yang bergabung  di proyek besar FutureProteins mengharapkan ruang-ruang tertutup yang berlokasi di antara gedung-gedung perkantoran dan apartmen dapat dijadikan  sebagai salah satu alternatif pilihan untuk menghasilan sumber protein yang berasal dari produk pangan di masa depan—terutama untuk perkotaan.

Bagaimana tanaman gandum atau bibit padi atau sayuran kangkung seperti di Indonesia, tanaman alfalfa, dan kentang berpotensi ditanam dan gembangkan di dalam ruangan tanpa lahan (tanah) sebagai media tumbuh tanaman? Para ahli hanya menggunakan pencahayaan buatan?

Bagaimana metode ini dapat diprogramkan secara berkelanjutan secara ekologis sekaligus tercapai kelayakan secara ekonomi?

Tim peneliti Fraunhofer IWU berfokus pada aspek ekonomi karena label harga sangat penting untuk menerima inovasi produk di sektor pangan.

Di wilayah dengan tingkat kemiskinan yang tinggi, harga yang tinggi dapat membuat produk tersebut sehingga warga yang membutuhakn tidak dapat melakukan akses.

Oleh karena itu, para ahi Fraunhofer IME merancang teknologi pertanian vertikal yang dijadikan sebagai sistem OrbiPlant® yang memungkinkan penanaman produk pertanian tanpa tanah dalam sistem tertutup yang terkontrol.

Sistem ini menggunakan sabuk konveyor bergelombang yang memperluas area tanam secara vertikal demikian laman mereka.

Para ahli pun memperhatikan efisiensi energi dan integrasi sumber energi terbarukan untuk memastikan bahwa pertanian vertikal yang mereka bangun dapat berkelanjutan secara ekologis dan ekonomis.

Tim peneliti mengembangkan skenario energi untuk berbagai lokasi seperti Berlin, Islandia, Burkina Faso, dan India, dengan mempertimbangkan kondisi iklim spesifik di setiap lokasi yang mereka sasar.

Mereka menghitung bahwa potensi pasar pertanian vertikal diprediksi mencapai hingga US$ 24 miliar dolar pada tahun 2030, menunjukkan potensi ekonomi yang signifikan—dengan  menerapkan dan menggunakan teknologi di pertanian vertikal.

Apa saja jenis tanaman yang dapat dikembangkan di pertanian vertikal? Negara mana saja yang sukses mengembangkan pertanian vertikal? Salah satu contoh negara yang sukses adalah Singapura? Indonesia?

SHARE THIS POST

Facebook
Twitter
LinkedIn
WhatsApp
ARTIKEL TERKAIT